TRANSLATOR

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Recent Coments

Recent Post

Random Ayat

Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label politik. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Januari 2009

GOLPUT, apakah sebuah solusi?

Sekarang sudah awal bulan Januari 2009, itu artinya PEMILU kurang 3 bulan lagi. Sebuah perhelatan akbar yang akan ikut menentukan arah masa depan bangsa ini. Pemilu adalah cara untuk memilih wakil – wakil rakyat yang duduk dilembaga DPR atau DPRD yang mempunyai fungsi legislasi, budgeter dan kontrol. Selain itu Pemilu adalah sebuah penentuan akan kepercayaan rakyat terhadap partai, apakah rakyat setuju atau tidak terhadap idiologi dan arah perjuangan sebuah partai. Tetapi itu kalau rakyat sebagai objek pemilih mengerti akan isensi dari sebuah perhelatan politik tersebut. Jika rakyat kurang memahami akan hal tersebut maka sebenarnya pemilu tidaklah berpengaruh atau bahkan membahayakan jikalau ada pihak – pihak yang memang mempunyai niat yang kurang baik terhadap negeri ini. Maka itulah perlunya edukasi yang benar terhadap masyarakat.

Seiring semakin dekatnya hari pemilihan, seperti biasanya muncul berbagai isu yang berkaitan dengannya. Termasuk isu itu adalah Golput atau golongan putih yang berarti tidak ikut ambil suara dalam pemilihan. Golput dapat dibedakan menjadi beberapa jenis menurut penyebabnya.

1. Golput karena kesalahan system pemilu.
Golput jenis ini adalah akibat dari system pemilu atau kesalahan penyelengara dalam hal ini KPU. Bisa karena tidak terdaftar atau kurangnya sosialisasi.

2. Golput karena sikap pasif.
Disebuah Negara maju yang cenderung aman, lancar, makmur dan tidak ada gejolak biasanya rakyat menjadi pasif dan cenderung individualis. Angka golput di Amerika sebelum Pilpres kemarin yang dimenangkan Barack Husein Obama sangat tinggi, bisa mencapai 50% bahkan lebih. Begitu krisis ekonomi mendera Amerika dan juga dunia, rakyat Amerika bangkit untuk ikut dalam sebuah pemilu karena mereka sadar akan pentingnya sebuah pilihan. Pilihan mereka menentukan sebuah perubahan.

3. Golput sebagai sebuah gerakan.
Dikala rakyat sudah tidak percaya lagi terhadap partai – partai yang ada akan menyebabkan rakyat menjadi apatis dan mengambil sikap golput. Golput menjadi sikap protes terhadap sebuah keadaan. Mereka berharap dengan tingginya angka golput maka akan mengurangi legitimasi dari hasil pemilu tersebut. Jika legitimasinya saja dipertanyakan, akan membuat sebuah pemerintahan gampang goyang. Atau bisa juga golput sebagai sebuah penentangan terhadap sebuah system. Misalkan mereka yang tidak setuju system demokrasi akan mengambil sikap golput, dengan tujuan sama untuk mendeligitimasi sebuah produk dari pemilu tersebut.

Memilih atau tidak memilih menurut undang – undang adalah hak. Sebagai warga negara bebas akan mengunakan hak tersebut atau tidak. Mari kita sedikit menelaah mengapa harus memilih atau mengapa harus golput.

Mari kita lihat sebuah hadist nabi berikut:

Dari Abdullah bin Umar, meriwayatkan dari nabi, bahwa Beliau bersabda : "Bagaimana keadaamu sekalian bila tiba suatu masa yang Hampir tiba, dimana manusia ketika di saring/diseleksi yang tersisa adalah orang-orang yang mnecampur adukan antara janji dan amanatnya?, dan mereka berselisih spt ini (beliau menyilangkan jari jemarinya)". Para sahabat bertanya, "wahai Rosululloh apa yg harus kami lakukan?." beliau menjawab : "Kamu sekalian mengambil apa-apa yang kamu ketahui sebagai kebaikan, & meninggalkan semua yang munkar. dan kamu sekalian harus memperhatikan urusan dari orang-orang yang khowas ( mengerti agama ), dan meninggalkan urusan orang-orang yang awam (bodoh akan agama)." [Riwayat Abu daud, Ann Nasai, At tabrani]

Dari hadist tersebut kita bisa kita artikan bahwa akan datang sebuah zaman yang kacau dimana banyak pemimpin yang tidak amanah dan saling berselisih. Maka pada saat itu kita diwajibkan untuk lebih condong kepada orang – orang yang lebih baik pemahaman agamanya.

Mari kita lihat refernsi lain.
Dalam Zaadul ma’ad, Ibnl Qoyim aljauziah mengatakan:
Mengingkari kemingkaran ada 4 derajat, yaitu:

1. Menghilangkan total (100%)
2. Mengurangi kemungkaran (asal nya 80% kemungkaran mnjadi 79.9% kemungkaran)
3. Mengubah kekemungkaran lain yg derajatnya sama (asalnya rumah zinah di rubah jadi rumah judi-red)
4. Mengubah ke kemungkaran lain yg derajatnya lebih besar.

Beliau melanjutkan telah ijma' kesyar'ian yg pertama dan yg kedua, yg ketiga ulama berikhtilaf , yg keempat harom hukumnya.

Yang ke1 : sbg contoh kita mengubah suatu rumah pelacuran menjkadi masjid.
Yang ke-2 : suka atau tidak, jika mendakwahi seseorg yg asalnya gak pernah sholat dan tukang mabuk, sampe dia bisa berenti mabuk tapi belum pernah sholat, maka itu di syari'atkan. walaupun tentunya meninggalkansholat-nya tetap dihitung sbg dosa. Jika anda jadi gubernur, di wilayahnya asalnya terjadi 100 korupsi tapi begitu anda jadi gubernur jadi 90 korupsi. Maka suka atau tidak inipun di syari'atkan.
Ke-3 : sbg contoh mengubah rumah pelacuran menjadi rumah judi.
Ke-4 : disinilah kita harus berhati – hati karena harom hukumnya. Dalam kaitannya memilih pemimpin walaupun dari pilihan – pilihan yang jelek sekalipun kita harus memilih yang terbaik dari yang jelek – jelek tersebut. Jika golput dan kemudian ternyata yang menjadi pemimpin adalah orang yang dzolim, maka itu berarti kegolputan anda ikut andil dalam mengantarkan org yang dzolim tersebut memimpin negeri ini sehingga kemungkaran yang lebih besar akan terjadi di negeri ini. Sesuai poin 4 tadi diatas, mengubah sebuah kemungkaran menjadi kemungkaran yang lebih besar adalah harom hukumnya.

Syaikh Bin Baz mengatakan:
Dakwah kepada Allah SWT itu mutlak wajibnya di setiap tempat. Amar makruf nahi munkar pun begitu juga. Namun harus dilakukan dengan himah, uslub yang baik, perkataan yang lembut, bukan dengan cara kasar dan arogan. Mengajak kepada Allah SWT di DPR, di masjid atau di masyarakat.Bila dia memiliki bashirah dan dengan cara yang baik tanpa berlaku kasar, arogan, mencela atau ta’yir melainkan dengan kata-kata yang baik. Dengan mengatakan wahai hamba Allah, ini tidak boleh semoga Allah SWT memberimu petunjuk. Wahai saudaraku, ini tidak boleh, karena Allah berfirman tentang masalah ini begini dan Rasulullah SAW bersabda dalam masalah itu begitu. Sebagaimana firman Allah SWT :
Serulah kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. QS. An-Nahl : 125
Ini adalah jalan Allah dan ini adalah taujih Rabb kita. Firman Allah SWT :
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. QS. Ali Imran : 159
Dan tidak merubah dengan tangannya kecuali bila memang mampu. Seperti merubah istri dan anak-anak-nya, atau seperti pejabat yang berpengaruh pada sebuah lembaga. Tetapi bila tidak punya pengaruh, maka dia mengangkat masalah itu kepada yang punya kekuasaan dan memintanya untuk menolak kemungkaran dengan cara yang baik.

Beliau menyampaikan Wajib nya amar ma'ruf nahyi Munkar/Da'wah dimanapun tempatnya.

Dalam masyarakat banyak sekali logika – logika atau alas an – alas an yang berkembang dan melandasi golput tersebut. Mari coba kita analisa alasan – alasan tersebut.

Tidak ada pilihan yang memadai

Mari kita lihat kembali hadist tersebut di atas.
Dari Abdullah bin Umar, meriwayatkan dari nabi, bahwa Beliau bersabda : "Bagaimana keadaamu sekalian bila tiba suatu masa yang Hampir tiba, dimana manusia ketika di saring/diseleksi yang tersisa adalah orang-orang yang mnecampur adukan antara janji dan amanatnya?, dan mereka berselisih spt ini (beliau menyilangkan jari jemarinya)". Para sahabat bertanya, "wahai Rosululloh apa yg harus kami lakukan?." beliau menjawab : "Kamu sekalian mengambil apa-apa yang kamu ketahui sebagai kebaikan, & meninggalkan semua yang munkar. dan kamu sekalian harus memperhatikan urusan dari orang-orang yang khowas ( mengerti agama ), dan meninggalkan urusan orang-orang yang awam (bodoh akan agama)." [Riwayat Abu daud, Ann Nasai, At tabrani]

Selalu ada pilihan yg terbaik walaupun dari yang terjelek. Adalah wajib bagi kita untuk memilih pada orang – orang yang lebih mengetahui dan paham terhadap agama.

Siapapun yang terpilih tidak ada pengaruhnya ( gak ngaruh )

Ini adalah alasan yang paling populer karena rakyat yang sudah terlalu lelah terhadap kondisi negara dan ekonomi yang tidak kunjung bisa diperbaiki. Tetapi apakah rakyat sendiri tidak punya andil terhadap kondisi ini?
Kalau kita tela’ah kondisi yang ada adalah buah dari kepemimpinan yang gagal. Kita lihat beberapa Negara yang dipimpin oleh orang – orang yang amanah. Negara yang dipimpin oleh pemimpin yang takut akan Alloh dan hari akhir tentu akan bertindak adil dan tidak menzolimi rakyatnya. Tidak menjual asset dan nasib rakyatnya kepada asing hanya untuk dirinya sendiri. Siapakah yang memilih pemimpin selama ini? Memang kita tidak bisa begitu saja menyalahkan rakyat dengan pilihannya yang salah tersebut. Mereka berbuat utu karena ketidak tahuan dan tipu muslihat dari kelompok – kelompok yang tidak bertanggung jawab dan lebih memilih kepentingannya sendiri. Kalau kita lihat siapa pemimpin Indonesia selama ini:
Di zaman orde lama, selama 22 tahun dipimpin Soekarno, Indonesia dikenal sebagai bangsa tempe, melarat, kemiskinan merajalela. Selama 32 tahun dipimpin Soeharto, rezim orde baru dikenal sebagai negara pelanggar HAM parah, sementara warisan hutang luar negeri bejibun, dan menjadi beban rakyat Indonesia. Setelah Orla dan Orba berlalu, negeri kita belum juga naik peringkat, malah lebih terpuruk dari sebelumnya. Kalau kita mau jujur, ternyata rakyat Indonesia lebih suka pemimpin yang jahat daripada pemimpin yang baik, lebih suka orang sekuler dengan pengetahuan agama yang sedikit daripada orang yang dengan pengetahuan agama yang lebih baik. Mengapa rakyat Indonesia menolak pemimpin yang baik? Karena mental rakyat Indonesia adalah mental aji mumpung. Menderita sekian lama dapat kesenangan sedikit sudah lupa.
Penting bagi kita sebelum memilih untuk memperhatikan orang – orang yang akan dipilih.

1. Beragama Islam dan memiliki pengetahuan akan agama yang lebih baik.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimmpin (mu): sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagiaan yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada oarng-orang yang zalim " (QS. Al-Maidah: 51)

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau bapak ibu dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau miskin, Allah lebih mengetahui kemaslahatan keduanya”. (Qs. An-Nisa; 4: 135)

Dengan pengetahuan agama yang lebih baik maka diharapkan akan menjadi pemimpin yang adil, pemberani, dan amanah.

2. Mempunyai rekam jejak (track record) yang baik.
3. Tidak mencalonkan diri tetapi dicalonkan. Karena mencalonkan diri dekat dengan ujub (sombong). Yang mencalonkan bisa masyarakyat, kelompok masyarakat, organisasi, lembaga atau partai politik yang dapat dipercaya. Dengan system yang ada sekarang maka calon dicalonkan oleh partai politik. Partai politik bisa meneyeleksi kader – kadernya yang layak, punya kadar iman yang kuat, dan mampu sabagai wakil atau pemimpin yang amanah serta mempunyai ilmu yang cukup.
4. Cerdas dan mempunyai ilmu yang cukup.

Dengan memperhatikan hal – hal tersebut mudah – mudahan akan mendapat pilihan yang tepat dan pilihannya tidak menjadi sia – sia.

Tidak ada jaminan kalau terpilih akan lebih baik

Sering saya mendapat pertanyaan, “apakah ada jaminan, kalau dia terpilih akan lebih baik dari sebelumnya?”
Pertanyaan ini sering muncul dan menjadi alasan orang untuk golput. Memang benar tidak ada satu orangpun bisa menjamin akan hal itu. Tidak ada satu orangpun yang tahu akan kejadian hari esok. Yang tahu hanyalah Alloh SWT. Seseorang yang kelihatan baik dan alim memang belum tentu kalau mereka tidak akan berubah setelah berkuasa dan dengan berbagai iming – iming dan rayuan harta yang banyak. Kita memilih adalah berdasarkan pertimbangan – pertimbangan yang manusiawi. Dengan melihat rekam jejak (track record) selama ini kita bisa menganalisa kadar iman, kemampuan, dan keilmuan seseorang.

Karena tidak suka dengan system yang ada

Negara kita menganut system demokrasi, saya sendiri berpendapat masih ada system yang lebih baik yaitu Khilafah Islamiyah. Tetapi seandainya kita tidak suka dengan system yang ada sekarang dan kemudian kita golput dan karena golput tersebut menyebkan orang kafir atau orang yang zolim berkuasa, maka kitapun akan menanggung kesalahan tersebut. Dengan alasan inilah beberapa orang menganggap kalau golput itu akhirnya haram, karena akan membuat keadaan menjadi lebih buruk dan menimbulkan banyak mudharat.

Demikianlah mudah – mudahan dapat menjadi pertimbangan dalam menentukan pilihan, dan semoga pilihan yang akan diambil dapat bermanfaat baik buat diri sendiri, masyarakat, dan umat seluruh dunia.


***Khoiru Naas anfa'ahum li naas***Sebaik - baik manusia adalah yang bermanfaat buat sesamanya*** Read More...

Sabtu, 06 Desember 2008

Terbuka atau tertutup

Terbuka vs tertutup, inklusif vs exklusif, kanan atau kiri vs tengah dan beberapa istilah lainnya yg sering dipergunakan org2 dgn paham sekuler utk meminggirkan politik agama. Tetapi anehnya kita sudah terlalu lama terjebak oleh kode2 tersebut. Para kaum sekuler mengklaim kalau sekulerisme dan lebelarisme adalah kelompok tengah, terbuka atau inklusif dan kaum agama adalah kelompok kanan, tertutup, exklusif atau pinggir. Dgn istilah seperti itu maka imej kelompok2 yg mendasari dirinya dgn agama adalah kelompok pinggir. Hal ini sudah tertanam jauh sekali didalam pemikiran kita pada umummnya. Hal2 yg dicap pinggir, tertutup dll mempunyai konotasi negatif sehingga didalam mind set org secara umum harus dihindari. Demikian juga yg terjadi pada politik yg didasari agama atau partai yg berdasarkan agama.

Mari kita lihat apakah agama dalam hal ini Islam adalah pinggir, tertutup, dan exklusif utk kelompok tertentu??? Tidak bukan??? Islam hadir utk seluruh manusia yg ada di bumi ini. Apaka kaya, miskin, gelandangan, preman, tukang maksiat, dan lain2 termasuk non Islam. Dakwah Islam harus ditujukan terhadap seluruh umat manusia yg ada di bumi ini. Jadi jelas kalau Islam adalah tengah dan sangat terbuka utk siapapun. Tetapi tentunya mereka yg mau dan tertarik masuk Islam harus mengikuti aturan2 dan ajaran2 Islam.

Menurut saya ( maaf kalau salah ), demikian juga politik yg dilakukan oleh PKS. Siapa saja boleh masuk PKS tetapi tentunya harus mengikuti aturan2 yg ada dalam PKS. Inilah yg menurut saya dakwah yg menyeluruh. Menyeluruh terhadap seluruh umat dibumi ini, sehingga Islam bisa menjadi rahmat bagi seluruh alam. Read More...

Rabu, 17 September 2008

Memahami PKS

Bagi PKS berdakwah lewat jalur politik adalah sebuah pilihan sulit. Sulit karena akan mendapat tantangan yang lebih besar. Godaan kekuasaan dan uang adalah sesuatu berat. Tetapi Islam sendiri adalah politik. Islam adalah sebuah idiologi yang mengharuskan umatnya untuk berpolitik.

Islam datang di Indonesia dibawa melalui jalur perdagangan, yg kemudian tumbuh menjadi besar dgn berdirinya berbagai kerajaan - kerajaan Islam. Dalam masa penjajahan para ulama dan raja - raja Islam menjadi pelopor perjuangan mengusir penjajahan. Islam telah tumbuh menjadi kultur dan pemersatu dalam menghadapi penjajah.

Setelah merdeka Islam di Indonesia mengalami situasi yang sulit. Para pendiri bangsa telah mengkerdilkan Islam dalam membangun bangsa ini. Sungguh sebuah ironi. Para tokoh Islam waktu itu banyak sekali mengalah dalam hiruk pikuk pembentukan idiologi negara. Tetapi akibatnya Islam terus terpinggirkan. Pada masa pemerintahan Suharto, Islam lebih ditekan lagi. Berbagai aktifitas dakwah, pesantren dan kelompok - kelompok Islam diawasi dengan ketat. Tak jarang terjadi tindakan - tindakan reprsif bahkan pemberangusan terhadap berbagai kelompok - kelompok Islam. Kita tentu ingat peristiwa Lampung, Tanjung Priok dan juga berbgai peristiwa - peristiwa lain yang memakan ribuan jiwa korban umat Islam. Sejak kemerdekaan sampai sekarang umat Islam terus terpinggirkan. Idiologi Islam yang merupakan idiologi nenek moyang kita yang telah mewarnai segala segi kehidupan masyarakat Indonesia terus dikikis sehingga generasi penerus sekarang tidak tahu lagi bahwa budaya - budaya Islam. Yang ditonjolkan oleh para pemimpin di negeri ini adalah sejarah Hindu dan Majapahit sehingga sejarah Islam di negeri ini, yang sempat mendominasi berbagai kerajaan - kerajaan di negara ini sebelum akhirnya digilas penjajah terus dikikis hingga terlupakan oleh penerus negeri ini. Para pemimpin kita lebih memilih sekuler yang dibawa penjajah daripada Islam yg merupakan idiologi nenek moyang mereka. Pemilihan sekuler dan mengabaikan Islam adalah sebuah sikap yang ingkar terhadap sejarah.

Inilah Indonesia, yang sebagian besar penduduknya adalah umat Islam, tetapi pada kenyataanya justru dikuasai oleh hanya segelintir kaum yang memiliki modal dan didukung oleh kekuatan besar dari luar.

Setelah runtuhnya Suharto, berbagai ormas dan partai politik banyak bermunculan sebagai sebuah akibat telah lepasnya dari sebuah tekanan. Demikian juga ormas Islam dan parpol Islam. PKS atau dulu bernama PK adalah Partai yang berazazkan Islam yang didirikan oleh para aktifis dakwah yang tergabung dalam lembaga dakwah sejak tahun 80-an.

PKS hadir memberi nuansa lain dalam perpolitikan negeri ini. PKS dengan Idiologi Islam tampil santun, ramah, dan penuh senyum kedamaian. Sentuhan nilai - nilai Islam membuat PKS begitu berbeda dengan para kompetitornya.

Dalam bidang seni budaya PKS mewarnai budaya kita dengan nasyid - nasyid yang indah. Cara berpakaian para kader telah banyak memberi inspirasi bagi orang lain. Para ikhwan yang mulai bergabung dengan tabiyah PKS berubah menjadi lebih santun. Demikian juga dengan para akhwat yang tadinya masih memakai pakaian yang ketat dalam berbuana muslim seperti calana jean dan lain lain, mulai berbusana muslimah yang rapi lengkap dengan kaus kakinya.

Dalam kancah perpolitikan PKS memberikan warna yang baru. Kader - kader PKS yang ada di parlemen mencoba menghadirkan nuansa yang berbeda. Masih ingat dalam benak saya bagaimana anggota DPRD Balikpapan dalam menceritakan keranya perjuangan dalam menegakan kebenaran, sehingga anggota yang lain pun mengucilkan mereka. Posisi wakil ketua DPRD yang secara UU harusnya otomatis menjadi hak wakil PKS karena menempati jumlah terbesar ke-2 pun dialihkan ke fraksi lain yang kurang berhak. Atau kisah para wakil di DPRD DKI yang dengan jumlahnya yang terbanyak, karena fitnah, isu dan berbagai permainan politik lainnya sehingga posisi ketua pun jatuh ke partai lain.

Salah satu anggota DPRD kota Padang masuk penjara dengan tuduhan pencemaran nama baik dalam perjuangannya mengungkap sekandal korupsi. Anggota DPR PKS pun terkucilkan karena berbagai laporannya ke KPK yang mengakibatkan beberapa anggota DPR yang lain masuk penjara. Dalam kurun waktu yang tidak begitu lama para anggota DPR dari PKS sudah berhasil melaporkan milyaran rupiah uang gratifikasi ke KPK. Dan masih banyak lagi berbagai kisah heroik para kader partai ini dalam peranannya memberantas korupsi.

Dalam berbagai bencana, PKS selalu menjadi partai yang pertama dalam ikut membantu meringankan beban para korban. Di konflik Ambon, tsunami Aceh, gempa Jogja, Padang , banjir jakarta dan berbagai bencana baik besar ataupun kecil PKS senantiasa hadir dan memberikan inspirasi bagi orang lain. Di Papua pun yang mayoritas penduduknya non muslim dan terpencil PKS datang untuk ikut serta dalam meringankan beban para korban bencana.

Dalam pemilu 1999 PK belum memperoleh suara yang cukup untuk lolos elektoral treshold, kemudian PK berganti menjadi PKS yang pada pemilu 2004 memperoleh kurang lebih 7,5% suara. Bagi sebagian orang perolehan ini adalah sesuatu yang mengejutkan dan pencapaian yang luar biasa.

Untuk melakukan perubahan tidak cukup dengan 7,5%. Tidak cukup hanya bermodalkan suara para aktifis, alim ulama dan santri saja. Seperti yang sudah kita ketahui, walaupun mayoritas penduduk Indonesia adalah umat Islam tetapi sangat kecil dari mereka memilih Islam sebagai solusi. Islam telah tergerus dari hati dan pikiran rakyat Indonesia oleh 350 tahun penjajahan dan 67 tahun pemerintahan setelah kemerdekaan. Menunggu hasil dari usaha melalui dakwah dalam masyarakat adalah salah satu upaya yang dilakukan. Bukan mengecilkan arti dakwah seperti itu, tetapi kita tahu besarnya gelontoran budaya, uang, tekhnologi dan tekanan politik barat sangat menyulitkan apalagi peraturan - peraturan yang ada di negeri ini belum mendukung. Untuk itulah perlu dilakukan usaha untuk merangkul setiap kelompok dan golongan masyarakat. Jadilah PKS menjadi partai yang lebih terbuka. Selain dalam upaya memperoleh suara yang lebih besar, keterbukaan juga diperlukan untuk lebih memperkanalkan pemikiran - pemikiran dan nilai - nilai Islam kepada masyarakat. Ibarat sebuah peribahasa, KALAU TAK KENAL MAKA TAK SAYANG.

Maka dibuatlah Platform partai dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti bagi rakyat kebanyakan. Kader - kader PKS pun hadir dimana - mana, tidak hanya di majelis taklim dan mesjid tetapi di berbagai even olah raga, seni budaya, dan tempat - tempat lain . Isu - isu yang diusung pun lebih cair, tidak hanya masalah agama tetapi lebih kemasalah yang bersifat umum. Untuk mendekati masyarakat umum, perlu bahasa yang lebih "gaul", tidak serius melulu, becanda-becanda dikit lah, tidak gampang keluar dalil "Allah berfirman" atau "kata Rasulullah", dan sebagainya.

Dalam berbagai pilkada PKS pun terbuka dengan semua partai politik termasuk partai dari kalangan non muslim. Dengan niat yang sungguh - sunnguh untuk berdakwah dan berjuang memperbaiki kondisi masyarakat, para kader PKS mantap melangkah bergandengan dengan berbagai macam partai sehingga kehadirannya bisa mewarnai berbagai perhelatan dengan nilai - nilai Islam. Memang kadar untuk mewarnai itu sangat tergantung dari besarnya modal suara dari setiap daerah. Dengan modal suara yang besar tentu lebih mempunyai posisi tawar, tentu lain dengan daerah yang modal suaranya kecil tentu warna PKS akan kurang terlihat bahkan samar. Tetapi itu adalah usaha yang maksimal. Bisa kita lihat di daerah - daerah yang suaranya besar PKS begitu mantap melangkah dengan segenap warna Islamnya, tetapi tentu hal ini berbanding terbalik dengan daerah yang suaranya kecil.

Yang terakhir kita dengar para petinggi PKS mewacanakan untuk berkoalisi dengan partai yang sangat sekuler yaitu PDIP. Hal ini tentu sudah dipikirkan secara matang oleh para petinggi partai yang tergabung dalam dewan syuro. Ada beberapa hal yang menurut saya bisa dipetik dari wacana ini.

1. Akan membuka pikiran para kaum nasionalis dan masyarakat yang hanya Islam KTP atau yang sering disebut Islam abangan, bahwa Islam tidaklah menakutkan seperti yang selama ini dihembuskan oleh para provokator.

2. Mereduksi sentimen nasionalis dan agamis yang juga selama ini dihembuskan oleh para provokator.

3. Merangkul masyarakat Islam abangan untuk lebih mengerti Islam.

4. Lebih melebarkan fungsi dakwah terhadap kalangan - kalangan yang selama ini belum tersentuh, karena mereka sendiri yang selama ini anti dengan dakwah tersebut.

5. Memperkuat posisi tawar.

Dengan langkah - langkah yang dilakukan tersebut PKS menuai hasil dengan semakin membesarnya suara - suara PKS diberbagai daerah. PKS semakin diterima oleh kalangan masyarakat umum, ibu-ibu, profesional, birokrat dan lain - lain. Hal ini tentu membuat semakin disegani oleh partai-partai besar seperti Golkar dan PDIP. Walaupun para petinggi PKS sudah menyatakan NKRI adalah sudah final, tetapi masih dicurigai macam-macam oleh "pawang negara" ini, yaitu kaum kapitalis yang punya duit segunung (maksudnya, yang tersimpan di rekening sampai 15 digit). Meskipun PKS sudah berbuat "secair" mungkin, mereka tetap belum percaya. "Gue kagak percaya!" kata mereka. "Lalu gimana lagi dong, Om?" kata PKS. Dia jawab, "Kami mau denger suara kamu soal Syariat Islam. Kata orang, kaliaan ini punya hidden agenda. Ntar kalau menang, kalian bakalan menerapin Syariat Islam.

Tetapi dilain pihak PKS semakin dicibir oleh kalangan Islam yang lain. Seperti diketahui di Indoneia ini ada banyak sekali kelompok dan organisasi Islam yang satu sama lain berbeda pandangan tentang berbagai hal. Saya di sini sengaja tidak menyebut Islam keras atau moderat karena hal tersebut sunguh sangat tergantung dari pandangan masing - masing. Seperti halnya setiap kelompok atau organisasi tersebut sering menyebut kelompok atau organisainya lah yang paling benar dan membid'ahkan atau menyalahkan yang lain. Kelompok - kelompok seperti Salafy, HTI atau yang lain begitu menjauh dari PKS. Tetapi banyak juga yang kemudian tokoh - tokohnya bergabung dengan PKS, karena PKS bagaikan rumah besar yang tidak membedakan, kelompok, aliran atau perbedaan suatu manhaj yang ada dalam kalangan umat.

Memang pada zaman nabi tidak ada apa yang disebut demokrasi. Kalau kita lihat istilah politik atau dalam bahasa arab "Siyasah" dari kata saasa yang artinya memimpin, memrintah, mengatur dan melatih.

Maka secara istilah politik atau Siyasah adalah semua tindakan yang dengannya manusia lebih dekat dengan kebaikan dan semakin jauh dari kerusakan meskipun tindakan itu tidak pernah disyariatkan oleh Rosululloh, dan tidak ada wahyu Al Quran yang turun tentangnya. Jadi jika dikatakan tidak ada siyasah (politik) kecuali yang seuai dengan syariat atau tidak bertentangan dengan apa yang disebutkan oleh syariah, maka hal itu adalah benar. Tetapi jika dikatakan siyaah (politik) hanyalah yang dibatasi oleh syariat, maka itu tidak benar dan sekaligus menyalahkan para sahabat nabi.

Contohnya para sahabat nabi ( khulafa'ur rasyidin ) telah mengeluarkan keputusan politik yang belum ada didalam Al quran dan As Sunnah.

Berpolitik melaui sistem (demokrasi) sepanjang untuk kemaslahatan umat dan bertujuan untuk lebih tegaknya syariah Islam tentu bukanlah sesuatu yang salah. Hal ini jg didukung oleh beberapa pendapat ulama seperti:

1. Imam Al-'izz Ibnu Abdis Salam
2. Syaikhul Islam Ibnu Tamiyah
3. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
4. Muhammad Rasyid Ridha
5. Syrikh Abdurrahman Bin Nashir As-Sa'di
6. Syeikh Ahmad Muhammad Syakir
7. Syeikh Abdurrahman Bin Abdul Khaliq

dan masih banyak lagi.

Pemimpin atau pemerintahan di suatu wilayah atau negara adalah sesuatu yang vital karena dari sanalah ada kekuasaan untuk mengatur atau mengarahkan negara ini. Di pusat kekuasaan itulah terbit berbagai peraturan dan perundang - undangan untuk mengatur negeri dan seluruh rakyatnya.

Seandainya kekuasaan itu berada ditangan orang yang kurang bertanggung jawab, munafikun, musrikin, kafir atau pezinah atau siapa saja orang yang tidak amanah maka nasib rakyat dan negara ini menjadi taruhannya. Misalnya pemimpin itu adalah yang sangat pro kepada sekulerisme, bukan tidak mungkin secara perlahan - lahan negara ini akan menjadi sekuler. Semua yang berbau barat akan diimpor mentah - mentah. Seperti budaya free sex, liberalisme, dan lain lain yang banyak mudharatnya dari pada manfaatnya. Atau pemikiran - pemikiran Islam akan dihapus secara perlahan - lahan dengan segala cara, baik itu fitnah atau konspirasi - konspirasi yang menyudutkan umat Islam. Kita tentu ingat bagaimana Kekhalifahan Turki dirubah menjadi Sekuler oleh Mustafa Kamal Ataturk, bahkan sampai para wanitanya dilarang memakai jilbab.

Oleh karena itu para para ulama pendiri PKS memandang perlunya mendirikan Partai Politik guna melindungi kepentingan - kepentingan umat Islam dan menegakan Syariat Islam. Memang hal ini bukanlah sesuatu yang mudah dan memerlukan kehati - hatian. Terkadang hal - hal yang berkenaan dengan syariah Islam perlu dibungkus serapi mungkin dalam menyampaikannya sehingga tidak mengundang reaksi - reaksi para lawan politik. Jika tidak hati - hati bukan tidak mungkin hal tersebut akan dengan mudah dipelintir dan menjadi bahan fitnah untuk menjatuhkan perjuangan para ulama kita ditenggah rakyat Indonesia lebih menyukai sinetron, bioskop, goyang erotis, indonesian idol, KDI, miss univers, celana ketat dan lain - lain dari pada pergi ke masjid untuk mendalami Al Quran.

Wallahu a'lam bisshawaab. Read More...

Rabu, 10 September 2008

IBADAH DI DUNIA POLITIK

Kalau suatu pemerintahan diisi oleh orang - orang yang kurang bertanggung jawab, opurtunis, dan tipis kadar imannya, maka jadilah kehidupan bernegara menjadi neraka bagi rakyatnya. Sebab merekalah yang mengambil kebijakan sehingga nasib rakyat terabaikan.

Sayangnya, orang-orang shalih yang percaya kepada Allah dan paham kitab suci, umumnya malah lari menghindar dari dunia poiltik. Alih-alih menyelematkan umat, mereka malah mencari tempat berlindung sendiri-sendiri di balik liang kecil sambil memendam kepala di dalam tanah. Memejamkan mata dan berpikir seolah semua ini terjadi begitu saja dan merupakan takdir Allah.

Sayangnya orang-orang yang bersih dan suci ini nyaris tidak mau mengotori tangannya dengan kerja dan usaha terlebih dahulu, sehingga mereka lebih memilih untuk bersembunyi di dalam pesantren dan lembaga pendidikan. Membangun tembok benteng untuk sekedar melindungi diri mereka sendiri. Adapun nasib umat Islam secara keseluruhan yang menjadi korban kebobrokan kebijakan politik srigala culas, seolah tidak pernah menjadi agenda pembicaraan.

Lucunya, di tengah kehancuran yang nyata seperti ini, di mana semua sepakat bahwa penyebabnya memang politk kotor para penguasa bejat, masih saja ada yang berpaham untuk menjauhkan diri dari upaya memperbaikinya. Bahkan mereka malah mengeluarkan fatwa yang mengharamkan umat Islam berupaya mengantisipasi kebejatan kebijakan politik. Fatwa-fatwa itu seolah mengatakan bahwa beramar makruf dan nahi munkar tepat di titik permasalahannya adalah hal yang haram.

Fatwa haramnya berpolitik dan mendirikan partai pendobrak kejahilan seakan mengandung pesan bahwa kalau mau beramar makruf dan nahi mungkar, jangan pada inti masalahnya, cukup pada masalah cabang dan ranting-rantingnya saja. Jangan tebang akar pohon permasalahannya, cukup setiap hari menyapu membersihkan sampahnya saja.

Padahal bila umat Islam bersatu dengan dimulai dari para ulama dan tokohnya, mereka duduk bersama dan menyamakan langkah, insya Allah dunia politik itu bisa dikuasai dengan baik oleh orang-orang yang shalih. Sehingga semua kebijakan politik yang lahir tidak lain adalah bentuk nyata dari semangat bahwa Islam adalah rahmatan lil 'alamin.

Namun pusat kekuasaan dan dunia politik itu tidak akan begitu saja diserahkan kepada orang-orang sahlih. Kecuali bila dikejar dan direbut langsung secara massal dari orang-orang bejat itu. Dan umat Islam dengan semua elemennya seharusnya bersatu padu untuk mengusir kekuatan mungkar dari dunia politik. Kursi mereka harus direbut, wewenang mereka harus dihapus, kekuasaan mereka harus diakhiri, kelaliman mereka harus disudahi, kejayaan mereka harus diruntuhkan. Jangan ada lagi suara rakyat untuk mereka, yang sudah terbukti culas dan sewenang-wenang.

Sebagai gantinya, majulah orang-orang shalih, orang-orang yang dahinya ada cahaya bekas sujud dan selalu basah dengan air wudhu', orang-orang yang bekerja demi tuhannya, bukan demi kedudukan atau harta, orang-orang yang hanya mencari pahala untuk akhirat, bukan mencari kemuliaan duniawi, orang-orang yang tujuan hidupnya hanya mencari keredhaan Allah semata.

Sebab hanya mereka saja yang layak mengisi dunia politik. Karena kotor tidaknya dunia politik bukan disebabkan nama politik itu sendiri, melainkan disebabkan oleh kekotoran para aktifisnya sendiri, yang memasuki dunia politk tanpa kenal siapa Allah dan siapa nabi-Nya. Mereka inilah yang telah mengharu-biru kehidupan umat manusia selama ini. Padahal mereka sama sekali tidak layak untuk duduk di sana.

Perlunya Ulama Duduk Bersama

Di sinilah perlunya para ulama duduk bersama untuk saling memberikan pandangan dan memperluas wawasan. Kalau ada perbedaan pandangan, janganlah selalu ditanggapi negatif. Justru berbahagialah, sebab perbedaan pendapat itu pada hakikatnya adalah ilham atau ilmu yang Allah SWt turunkan, meski melalui orang lain.

Seorang alim yang mumpuni biasanya selalu minta dikritisi oleh ulama lain, agar bisa mendapatkan hasil ijtihad yang terbaik. Mengklaim diri sebagai pihak yang selalu benar dan pasti harus benar terus, sesungguhnya bertentangan dengan karakteristik keulamaan. Semakin banyak dikritisi pemikirannya, seharusnya semakin gembira, bukan malah tersinggung dan marah-marah sendiri. Read More...

Kamis, 21 Agustus 2008

Sistem Suara Terbanyak atau Nomor Urut

PAN, DEMOKRAT dan GOLKAR menerapkan system suara terbanyak dalam menentukan caleg mereka yang berhak menduduki kursi DPR (D) untuk pemilu April 2009. Sebuah langkah yang patut mendapat apresiasi karena telah melewati batas hegemoni partai dalam penentuan nomor urut sehingga nantinya penentuan orang – orang terpilih diserahkan pada system demokrasi yang berdasarkan suara rakyat. Terutama bagai Partai Golkar hal ini adalah sebuah terobosan yang sangat maju untuk memperbaiki budaya yang ada selama ini.

Berdasarkan UU No. 10 tahun 2008, penentuan caleg terpilih adalah melalui ambang batas 30% dari Bilangan Pembagi Pemilih atau BPP. Sehingga masih memungkinkan memakai system nomor urut bagi caleg yang telah melewati batas ambang batas 30% tersebut.

Terlepas dari aspek legal atau illegal menurut Undang – undang, tetapi mari kita cermati efektifitas dan manfaat dari 2 sistem tersebut. Bagi partai dengan system pengkaderan yang kurang bagus atau bagi partai yang mengalami permasalah dalam penentuan nomor urut hal tersebut sangat bagus karena bisa memperbaiki system rekrutmen, menghindari money politic didalam partai dan memperbaiki citra dalam masyarakat.

Dengan diterapkannya system suara terbanyak memungkinkan caleg dengan nomor urut di bawah atau sering disebut nomor sepatu bisa mengungguli nomor urut diatasnya dan mendapat jatah kursi parlemen. Hal tersebut bisa membuat orang – orang yang telah lama dan banyak berkorban untuk partai dilewati oleh orang – orang yang tidak bekerja buat partai tetapi memetik hasil dari hasil kerja mereka. Sehingga dapat menimbulkan efek kecemburuan dan konflik dalam partai.

Bagi partai politik yang mempunya tradisi dan system pengkaderan yang baik serta rekrutmen caleg yang baik dengan mengedepankan kualitas dan kapabilitas para angotanya tentu system suara terbanyak kurang baik diterapkan. Karena memperkenalkan dan mempromosokan diri kepada banyak orang bukanlah perkara yang mudah. Kecuali bagi profesi – profesi yang memang mengahruskan dirinya bergelut dengan masyarakat banyak dan mudah dikenal orang seperti selebriti, dokter dan tokoh masyarakat. Kualitas orang tentu tidak bisa diukur dari popularitas belaka. Untuk duduk dilembaga DPR (D) sebagai mitra pemerintah yang melaksanakan fungsi bugeter, ligislasi dan pengawasan diperlukan orang – orang yang berkualitas dan mampu dibidangnya sehingga nantinya bisa melakukan fungsi – fungsinya dengan baik dan tidak hanya menjadi pendengar dan tukang stempel belaka bagi kebijakan pemerintah. Didalam sebuah partai bisa dibentuk lembaga yang menangani pengawasan atau kontrol terhadap para kadernya sehingga bisa mengetahui kualitas dari para anggotannya, sehingga bisa menentukan caleg berdasar kualitasnya. Atau sebagai alternative bisa dilakukan pemilihan internal didalam partai tersebut, karena orang – orang didalam partai tersebut tentu lebih mengetahui karakter dan kualitas para anggotanya. Tentu hal tersebut tetap harus dengan menjunjung dan mengedepankan nilai – nilai kejujuran dan akhlak mulia. Read More...

Selasa, 29 Juli 2008

yang Muda lebih Progresif atau yang Tua lebih Arif?

Belakangan ini kencang berhebus isu pemimpin tua dan pemimpin muda. Menjelang pemilu 2009 terutama pemilu presiden suhu politik semakin memanas. Presiden sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dalam pemerintahaan telah membut berbagai kelompok untuk berlomba – lomba menggapainya, tentunya dengan berbagai sudut pandang dan tujuan yang berbeda. Kita sebagai rakyat kecil hanya berharap semoga niat mereka tulus untuk membela rakyat yang semakin sulit dalam mempertahankan hidupnya.

Dari kalangan politikus senior, mereka masih berambisi untuk bisa menduduki jabatan tersebut, demikian dari kalangan muda merasa merekalah yang lebih mampu untuk bias menjalankan pemerintahaan.

Dari kalangan tua atau lebih dari 50 tahun ada Susilo Bambang Yudoyono yang sekarang masih presiden, Megawati Sukarno Putri yang pernah menjadi presiden, Gus Dur yang juga pernah menjadi presiden, Wiranto, Sultan Hamengku Buwono, Jusuf Kalla dan Sitiyoso mantan Gubernur DKI. Dari kalangan muda atau kurang dari 50 tahun ( balita ) ada Fajrul Rohman, Rizal Malarangeng, Yusril Ihza mahendra, Hidayat Nurwahid, dan Yudi Chrisnandi.

Kalangan muda mengklaim mereka lebih punya visi yang segar, progresif, berani mengambil resiko dan tidak terkait secara langsung dengan orde lama dan orde baru yang pada akhir masa orde – orde tersebut banyak meninggalkan persoalan bagi bangsa ini.

Kalangan tua mengklaim mereka lebih punya pengalaman dan lebih arif dan itu sangat diperlukan dalam mengatasi masalah bangsa ini.

Tua atau muda tentu tergantung rakyat yang akan memilih. Yang menjadi masalah bagi kalangan muda mereka merasa tersumbat karena partai – partai besar yang memungkinkan sebagai jalan dalam pertarungan memperebutkan kursi presiden dikuasai kalangan tua, sementara dari jalur independent tidak memungkinkan karena UUD 45 tidak mengijinkan hal tersebut.

Kalau kita tengok kebelakang, perjuangan merebut kemerdekaan dipelopori kaum muda dengan organisasi kebangsaan pertama SI dan BU. Demikian juga Sumpah Pemuda yang menyatakan identitas Indonesia juga digerakan oleh kaum muda. Sukarno menjadi pemimpin negeri ini pertama kalinya dalam usia relative muda demikian juga Suharto yang berhasil dalam melaksanakan pembangunan juga menjadi presiden dalam usia yang masih muda. Dalam usia yang masih relative muda mereka berhasil melakukan perubahan, Sukarno berhasil menjadikan Indonesia sebagai Negara berdaulat menegakan demokrasi. Suharto berhasil dengan pembangunannya berhasil merubah Indonesia menjadi kekuatan yang disegani di Asia.

Kita catat ketika mereka menginjak usia yang semakin tua, bukan kearifan yang muncul. Dikala progresifitas mulai menurun, keraifan juga tak kunjung terlihat. Sukarno dengan demokrasi terpimpin ingin memimpin Indonesia seumur hidup. Kalau kita kutip dari wawancara Sukarno dengan wartawan asing setelah dia pinggirkan oleh Suharto, Sukarno berkata bahwa dia ingin memimpin Indonesia samapai dia lelah dan menyerahkan kepada penggantinya. Suharto yang sudah tua dan sangat lama menjadi presiden juga terus memepertahankan kekuasaanya samapai kemudian diruntuhkan oleh kekuatan mahasiswa. Kalau kita pikir hal tersebut sungguh sangat memilukan. Belum lagi kalau kita kutip pernyataan Jusuf Kalla kalau semua mantan presiden kita tidak ada yang saling berkomunikasi setelah mereka lengser dari jabatannya, walaupun tentunya dengan alas an yang berbeda. Sukarno tidak berkomunikasi dengan Suharto karena Sukarno diisolasi oleh Suharto, Suharto tidak mau ketemu Habibie karena mencurigai Habibie walaupun Habibie sudah berusaha dengan berbagai cara untuk bertemu dengan Suharto, Habibie dan Gus Dur tidak berkomunikasi karena berbeda pandangan, Gus Dur tidak mau berkomunikasi dengan Megawati karena sakit hati, dan Megawati tidak mau bekomunikasi dengan SBY karena merasa kalau SBY adalah anak buah yang kurang ajar.

Kalau kita tengok rentetan cerita tadi sungguh para pemimpin itu semakin tua tidak semakin menunjukan kearifannya, walaupun itu mungkin hanya terjadi di Indonesia karena mungkin mereka bukan negarawan sejati.

Kalau kita kembali ke judul di atas terbukti yang muda lebih progresif dan punya misi tetapi yang tua belum tentu semakin arif.

Read More...

Label

e-book (4) e-book Islam (7) khilafah (5) Motivasi (1) perang salib (16) politik (6) serial cinta (2) tafsir Al-Qur'an (5) umum (4)