TRANSLATOR

English French German Spain Italian Dutch

Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
by : BTF

Recent Coments

Recent Post

Random Ayat

Tampilkan postingan dengan label tafsir Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tafsir Al-Qur'an. Tampilkan semua postingan

Rabu, 29 April 2009

Mukaddimah Fi Zhilal Quran (4)

Al-Haq (Kebenaran) dalam Manhaj Allah merupakan dasar bangunan semesta ini. Ia bukan ada sekonyong-konyong dan tidak pula secara kebetulan tanpa maksud. Sesungguhnya Allah itu adalah al-Haq. Semua yang ada di jagad raya ini keberadaannya bersumber dari keberadaan-Nya.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ هُوَ الْبَاطِلُ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيرُ

Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah, Dialah Yang Haq dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS Al-Hajj : 62)

Sesungguhnya Allah telah menciptakan alam semesta ini dengan haq dan tidak tercampur sedikitpun dengan bathil (kebatilan).

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى

Tidakkah mereka memikirkan dalam diri mereka bahwa Allah tidak menciptakan langit dan bumi ini dan apa yang ada di atntara keduanya kecuali dengan haq dan batas yang sudah ditentukan… (QS Ar-Rum : 8)

Sebab itu, al-Haq adalah pilar alam semesta. Bila menyimpang darinya, maka alam ini akan rusak dan hancur.

َلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ

Sekiranya al-haq itu mengikuti hawa nafsu (kemauan) mereka, niscaya rusaklah langit dan bumi dan siapa saja yang ada di dalamnya… (QS Al-Mukminun : 71).

Sebab itu, al-Haq itu harus menang dan al-Bathil itu harus lenyap. Kendati fenomena yang nampak bukan seperti itu, namun endingnya akan terlihat dengan jelas.

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ

Sebenarnya Kami melontarkan yang al-Haq kepada al-Bathil, lalu yang al-Haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang al-Bathil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya). (QS Al-Anbiya’ : 18)

Sesungguhnya kemabali kepada Allah – sebagaimana nampak saat hidup di bawah naungan Al-Qur’an – hanya satu konsepsi dan satu jalan…. Tidak ada yang lain…. Itulah kembali secara total dalam hidup ini berdasarkan manhaj Allah yang dititahkan-Nya untuk manusia sesuai apa yang tercantum dalam Kitab-Nya (Al-Qur’an). Menjadikan Al-Kitab ini sebagai dasar dan sumber hukum mereka dalam kehidupan ini. Berhukum kepadanya saja dalam menyelesaikan persoalan-persoalan hidup ini. Jika tidak, keruskan yang akan terjadi di muka bumi – seperti yang kita saksikan saat ini-, celaka bagi manusia, terbenam dalam lembah kehinaan dan terjebak mengikuti Jahiliyah yang menyembah hawa nafsu sebagai tuhan selain Allah.

فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ (50)

Maka jika mereka tidak menjawab (seruanmu), ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.(QS Al-Qashash : 50)

Sesungguhnya berhukum pada manhaj Allah yang ada dalam Kitab-Nya (Al-Qur’an) bukanlah perkara sunnah atau tathowwu’ (suka rela) dan tidak pula sebagai pilihan. Melainkan perkara beriman atau tidak beriman.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا (36)

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al-Ahzab : 36)

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ (18) إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِينَ (19) هَذَا بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ (20)

Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang orang yang tidak mengetahui () Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari (siksaan) Allah. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa. ()Alquran ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (QS Al-Jatsiyah : 18 – 20 )

Nah, masalahnya amat serius… Ia pada dasarnya adalah masalah akidah… Kemudian baru masalah kebahagiaan dan kesengsaraan manusia…

Sesungguhnya manusia ini ciptaan Allah. Tidak mungkin terbuka kunci-kuci fitrahnya kecuali dengan anak-anak kunci yang yang diciptakan Allah pula. Tidak mungkin dapat mengobati penyakit-penyakitnya kecuali melalui obat yang diciptakan Tangan-Nya. Allah menciptakan kunci-kunci itu hanya dalam manhaj-Nya yang akan membuka setiap gembok dan obat bagi setiap penyakit.

Sesungguhnya di sana ada segolongan manusia yang suka menyesatkan dan menipu. Mereka adalah musuh kemanusiaan. Mereka meletakkan manhaj Allah di atas daun timbangan dan hasil-hasil penemuan manusia dalam dunia materi di atas daun timbangan yang satu lagi. Kemudian mereka berkata : Pilihan… Pilihan… Pilih manhaj Allah dalam hidup ini dan tinggalkan semua yang diciptakan tangan manusia dalam dunia materi. Atau ambil semua buah pengetahuan manusia dalam dunia materi dan tinggalkan manhaj Allah..

Ini adalah tipuan yang amat kotor dan menjijikkan… Letak perkaranya sama sekali bukanlah seperti itu. Manhaj Allah itu tidak pernah memusuhi hasil karya manusia. Akan tetapi, Manhaj Allah itu adalah sumber karya dan penemuan itu dan mengarahkannya ke arah benar. Yang demikian itu agar manusia bangkit sebagai Khalifah Allah di muka bumi ini.

Itulah maqam (kedudukan) yang amat mulia yang dianugerahkan Allah kepada manusia. Maqam tersebut merupakan power (kekuatan) yang tersimpan sebagai kompensasi atas kewajiban yang dibebankan pada mereka. Lalu Allah berikan kemampuan kepada manusia untuk menundukkan apa yang ada di langit dan di bumi ini melalui sistem yang ditentukan-Nya sehingga manusia mampu merealisasikannya. Di samping itu, Allah juga mensingkronkan antara penciptaan manusia dengan penciptaan alam semesta agar mereka mendaptkan hak hidup, bekerja dan berkarya, dengan landasan bahwa karya tersebut mesti dalam rangka ibdah kepada Allah, sebagai sarana syukur mereka terhadap nikmat yang melimpah dari-Nya dan terikat pula dengan akad kekhalifahan mereka di atas bumi. Di antara isi akad tersebut ialah, bahwa manusia bekerja dan berkarya harus dalam frame ridha Allah.

Adapun mereka yang menaruh manhaj Allah di atas daun timbangan dan karya manusia dalam dunia materi di atas daun timbangan yang lain, mereka sebenarnya memiliki niat jahat karena mereka sendiri orang-orang jahat yang berupaya selalu mengusir mansusia yang sedang letih dan bingung setelah capek dari terlunta-lunta, kebingungan dan kesesatan. Padahal jiwa mereka sebenarnya merindukan untuk mendengar suara Penasehat Tunggal (Allah), kembali dari tersesat yang mebahayakan dan mendaptkan ketenagan pangkuan Allah.

Sementara di sana ada lagi sekelompok lain yang kekurangan mereka bukan pada niat, akan tetapi merka kurang memiliki pengetahuan yang syamil (konprehensive) dan pemahaman yang mendalam. Mereka terperangah melihat apa yang dicapai oleh manusia dari penemuan-penemuan kekuatan dan sistem-sistem alam semesta ciptaan Allah. Mereka kagum sekali menyaksikan keberhasilan-keberhasilan manusia dalam dunia materi. Kekaguman itu telah membuat dalam diri mereka pemisahan antara kekuatan alam dan kekatan nilai keimanan, efektifitasnya dan pengaruhnya dalam fakta alam dan realitas kehidupan. Lalu mereka menjadikan sistem-sistem alam ini menjadi satu bagian dan nilai-nilai keimanan menjadi bagian lain. Mereka menduga bahwa sistem alam ini berjalan di jalannya tanpa terpengaruh oleh nilai-nilai keimanan. Hasilnya akan sama bagi manusia beriman atau kafir. Apakah mereka mengikuti manhaj Allah atau melanggarnya. Apakah mereka berhukum pada syariat Allah atau dengan syari’at hawa nafsu mansia…

Pendapat seperti itu adalah dugaan belaka, karena memisahkan antara dua sistem Allah yang pada hakekatnya tidaklah terpiasah. Nilai-nilai keiman itu juga bagian dari sistem Allah seperti halnya sistem-ssitem yang ada dalam alam semesta. Hasilnya juga saling terikat. Dan tidak ada alasan memisahkan antara keduanya dalam perasaan dan konsepsi seorang Mukmin.

Inilah konsepsi yang benar yang dibangun Al-Qur’an dalam diri Anda saat Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an. Al-Qur’an membangunnya saat bicara tentang Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang hidup di masa lampau, penyimpangan mereka dan pengaruh penyimpangan tersebut pada akhir perjalanan mereka.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ آَمَنُوا وَاتَّقَوْا لَكَفَّرْنَا عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَأَدْخَلْنَاهُمْ جَنَّاتِ النَّعِيمِ (65) وَلَوْ أَنَّهُمْ أَقَامُوا التَّوْرَاةَ وَالْإِنْجِيلَ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ مِنْ رَبِّهِمْ لَأَكَلُوا مِنْ فَوْقِهِمْ وَمِنْ تَحْتِ أَرْجُلِهِمْ مِنْهُمْ أُمَّةٌ مُقْتَصِدَةٌ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ سَاءَ مَا يَعْمَلُونَ (66)

Dan sekiranya Ahli Kitab beriman dan bertakwa, tentulah Kami tutup (hapus) kesalahan-kesalahan mereka dan tentulah Kami masukkan mereka ke dalam surga surga yang penuh kenikmatan.() Dansekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat, Injil dan (Alquran) yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka. Di antara mereka ada golongan yang pertengahan . Dan alangkah buruknya apa yang dkierjakan oleh kebanyakan mereka.(QS Al-Maidah : 65 – 66)

AL-Qur’an membangun konsepsi itu saat bicara tentang janji Nabi Nuh pada kumnya.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا () يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا () وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ()

maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun -,() niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,() dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula didalam-nya) untukmu sungai-sungai. (QS Nuh : 10 – 12)

Al-Qur’an membangun konsepsi tersebut saat bicara tentang adanya ikatan antara realitas jiwa manusia dengan realitas di luar diri mereka yang Allah ciptakan bagi mereka.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak merubah kondisi suatu kaum sehingga mereka merubah (kelemahan) yang ada dalam diri mereka sendiri.. (QS Ar-Ra’d : 11)

Sesungguhnya iman kepada Allah, ibadah kepada-Nya dengan istiqamah, menerapkan syari’at-Nya di atas bumi ini… semuanya merupakan realisasi sistem-sitem Allah. Sistem-sitem yang memiliki efektifitas positif yang mucul dari sumber yang sama dengan istem kauni yang kita lihat pengaruhnya melaluai perasaan/pengalaman dan laboratarium.

Sesungguhnya syari’at Allah merupakan bagian dari sistem Allah secara keseluruhan yang ada dalam alam semesta ini. Menerapkan syari’at tersebut pasti memberikan pengaruh positif dalam perjalan alam dan kehidupan manusia. Syaria’ tersebut merupakan buah dari iman yang tidak mungkin berdiri sendiri tampa dasar/pokoknya yang amat besar. Sebab itu, syari’at Allah diciptakan untuk diterapkan dalam amsyarakat Islam, sebagaiman ia juga diciptakan untuuk berperan dalam membangun masyarakat Islami. Syariat tersebut juga sempurna bersama konsepsi Islam terhadap alam semesta dan terhadap manusia. Apa yang dibangun oleh konsep tersebut ialah taqwa dalam hati, bersih dalam perasaan, fokkus kepada hal-hal besar, ketingian akhlak, konsistensi dalam prilaku. Dan begitulah seterusnya nampak jelas kesmpurnaan dan keselarasan antara sistem-sitem Allah, bersamaan apa yang kita namakan dengan hukum alam dengan apa yang kita namakan dengan nilai-nilai keimanan. Semuanya merupakan bagian dari sunnatullah (sistem Allah) yang konprehensive bagi alam semesta ini.

Manusia juga sebuah kekuatan dari kekuatan-kekuatan yang ada dalam alam semesta. Amalnya, kehendaknya, imannya, kebaikannya, ibadahnya dan aktivitsnya semuanya merupakan kekuatan yang memiliki pengaruh positif di alam ini dan terkait dengan sunnatullah yang ada di alam ini secara keseluruhan. Semuanya bekerja secara serasi. Ia akan memeberikan buah secara sempurna bilamana kekuatan-kekuatan itu berhimpun dan harmonis. Demiakian juga akan melahirkan pengaruh negatif, mengalami kegoncangan dan merusak kehidupan serta menyebarkan kesakitan di antara manusia ketika berbagai kekuatan itu tercerai berai dan saling bertabrakan.

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَى قَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada sesuatu kaum, hingga kaum itu merubah apa yang ada pada diri mereka sendiri , dan sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui (QS Al-Anfal : 53)
Maka ikatan antara perbutan manusia dengan perasaannya dan atara peristiwa-peristiwa yang terjadi sangatlah kuat dalam sistem Allah yang syamil. Sebab itu, tidak ada inspirasi pemisahan ikatan ini. Tidak pula ada seruan untuk membuatnya tidak harmonis dan tidak ada juga batas antara manusia dan sunnatullah yang berlaku kecuali musuh manusia yang menjauhkannya dari petunjuk (hudan). Hal seperti itu pantas disingkirakan dari jalan menuju Rab (Tuhan Pencipta) yang Maha Mulia.

Inilah sebaigian lintasan pikiran dan perasaan yang lahir dari masa hidup di bawah naungan Al-Qur’an. Semoga Allah memberinya manfaat (bagi pemca) dan memberinya petunjuk. Dan kamu tidak dapat berkehendak kecuali jika Allah menghendakinya.

Read More...

Mukaddimah Fi Zhilal Quran (3)

Jika Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an, Anda pasti akan hidup tenang dan tentram sambil melihat tangan Allah dalam segala kejadian dan dalam segala urusan. Anda hidup dalam pangkuan Allah dan dan penjagaan-Nya sambil menikmati positifitas sifat-sifat-Nya dan perbuatan-Nya.

أَمْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

"Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan…." (QS An-Naml : 62)

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ

"Dan Dialah yang Berkuasa di atas hamba-hamba-Nya dan Dialah yang Maha Bijaksana lagi Mengetahui" (QS Al-An’am : 18)

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

"… Dan Allah pasti menang atas segala urusan-Nya dan kebanyakan manusia tidak mengetahunya." (QS Yusif : 21)

وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ

"Dan ketahuilah bawa sesungguhnhya Allah membatasi antara seseorang dengan hatinya…" (QS Al-Anfal : 24)

إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِمَا يُرِيدُ

"Sesungguhnya Rab (Tuhan Pencipta)mu Maha Melaksanakan apa yang Dia kehendaki" (QS Hud : 107)

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا () وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا

"Dan siap ayang bertaqwa kepada Allah, pasti Dia jadikan baginya jalan keluar () dan Dia beri rezki dari arah yang tidak ia duga, dan siapa yang bertawakkal (berserah diri) kepada Allah maka pasti Dia mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." (QS At-Thalaq : 2 – 3)

مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلَّا هُوَ آَخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا

"Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya" (QS Hud : 56)

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ

"Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-Nya. Dan mereka menakut-nakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah?.." (QS Az-Zumar : 36)

وَمَنْ يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُكْرِمٍ

"Siapa yang dihinakan Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat memuliakannya…." (QS AL-Hajj : 18)

وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ

"Dan siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada baginya seorangpun yang dapat memebrinya petunjuk…" (QS Arra’d : 33)

Sesungguhnya semesta ini tidaklah diatur oleh sistem-sitem bisu. Di sana ada sistem-sistem yang mengatur dan kehendak mutlak. Allahlah yang menciptakan apa saja yang dikehendaki-Nya dan dipilih-Nya. Hidup dibawah nauangan Al-Qur’an mengajarkan Anda bahwa Tangan Allah setiap saat bekerja dengan cara-Nya yang unik. Tidak pantas bagi kita untuk minta dipercepat (isti’jal) dan tidak pula mengusulkan pada Allag akan sesuatu.

Sebab itu, Manhaj Ilahi (Konsep Allah) – sebagaimana jesal di bawah naungan Al-Qur’an- diciptakan untuk diterapkan dalam setiap lingkungan dan setiap marhalah (periode) dari marahalah-marhalah penciptaan manusia. Juga dari setiap kondisi kejiwaan mannusia. Manhaj Allah itu diciptakan untuk manusia yang hidup di atas bumi ini dengan mempertimbangkan fitrah, potensi, kesiapan, kekuatan dan kelemahannya, serta kondisinya yang selalu berubah.

Sesungguhnya Manhaj Allah itu tidak pernah berburuk sangka (engative thinking) terhadap manusia sehingga mengerdilkan peran mereka di atas bumi ini. Atau melecehkan nilai kemanusiaan dengan gambaran kehidupan yang buruk sebagai indivdu atau anggota jamaah (kelompk) manusia. Demikian juga, Manhaj Allah tidak membangun waham khayalan untuk mengangkat derajat mansia di atas derajat, kemampuan dan tugasnya yang telah diciptakan sejak pertama kali Allah menciptakan mereka. Dalam dua kondisi tersebut, Manhaj Allah juga tidak mengharuskan bahwa faktor-faktor pendukung fitrah manusia bisa bangkit hanya dengan sistem sederhana atau jatuh hanya disebabkan goresan pena.

Manusia adalah makhluk hidup dengan jati dirinya, fitrahnya, kecendrungannya dan kesiapannya mampu mengambil Manhaj Allah dengan tangannya agar dapat naik ke tingkat/ derajat kesempurnaan yang paling tinggi yang telah dietapkan untuk mereka berdasarkan penciptaan dan tugas yang dipikulkan atas mereka. Untuk itu, mereka harus menghormati jati diri, fitrah dan faktor-faktor pendukung lain yang menggiring mereka ke jalan kesempurnaan menuju Allah. Sebab itu, Manhaj Allah diciptakan untuk jangka panjang sesuai pengetahuan Zat Pencipta manusia itu sendiri dan yang menurunkan Al-Qur’an ini. Sebab itu pula tidak aka ada dalam Manhaj Allah itu “coba-coba” dan tidak ada pula yang bersifat tergesa-gesa dalam merealisasikan tujuan-tujuannya yang amat mulia.

Adapun Islam, maka ia amatlah mudah dan lentur bersama fitrah yang mendorongnya dari saru sisi dan menahannya dari sisi yang lain. Islam akan meluruskannya ketika ia mulai condong… Akan tetapi tidak dipatahkan dan dihancurkannya. Islam sangat sabar terhadap fitrah bagaikan sabarnya seorang arif yang melihat dengan mata hatinya dan yakin akan tujuan yang sudah digariskan. Hal-hal yang tidak selesai dalam jaulah (putaran perjalan) kali ini akan diselesaikan pada jaulah kedua, ketiga, atau kesepuluh, keseratus dan bahakan jaulah keseribu… Karena waktu itu masih terbuka… Tujuan amatlah jelas… Sedangkan jalan menuju tujuan yang besar itu sangatlah panjang… Itulah Islam yang tumbuh dan membesar secara perlahan, dengan cara yang mudah dan ketenagan… Kemudian wujudlah Islam itu seperti yang dikehndaki Allah.... Islam adalah Manhaj Allah di alam semesta ini

وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلا

"Dan kamu tidak akan menemukan sunnah (sistem) Allah itu berganti" (QS Al-Ahzab : 62)

Read More...

Mukaddimah Fi Zhilal Quran (2)

Jika Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an, Anda pasti melihat bahwa manusia itu jauh lebih mulia dari penilaian yang pernah dikenal manusia, baik dahulu maupun sekarang. Mereka adalah manusia yang mendapatkan tiupan ruh (nyawa) dari Allah.

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ (29)

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka mereka (malaikat) tunduk kepadanya dengan bersujud (QS. Al-Hijr : 29)

Maka dengan tiupan itu pula, manusia berhak menjadi Khalifah-Nya di muka bumi.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً

Dan ingatklah ketika Rob (Tuhan Pencipta)mu berkata kepada para malaikat : Sesungguhnya Aku menjadikan khalifah di muka bumi…..(QS. AL-Baqarah : 30).

Lalu Dia menundukkan bagi manusia apa saja yang ada di lngit dan di bumi

وَسَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ جَمِيعًا مِنْهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan Dia menundukkan bagimu apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi semuanya sebagai rahmat dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar tanda-tnada bagi kaum yang berfikir. (QS. Al-Jatsiyah : 13)

Dengan begitu hebatnya kemualiaan dan ketinggian yang dianugerahkan kepada Manusia, Allah telah menjadikan sebuah ikatan yang bersumber dari tiupan ilahiyah yang amat mulia. Itulah iakatan akidah fillah. Sebab itu, akidah orang beriman (mukmin) adlah tanah air dan kebangsaannya serta keluarganya. Di atas akidah sajalah manusia berhimpun. Bukan seperti berhimpunnya hewan yang dilandasi kepentingan rumput dan tempat gembala.
Sesungguhnya orang Muslim itu memiliki hubungan keturunan yang jauh yang terbentang jauh ke belakang. Ia adalah salah seorang dari kafilah mulia itu yang membimbing langkahnya bersama kelompok yang mulia pula: Nuh, Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’qub, Yusuf, Musa, Isa dan Muhammad ;’alaihimush-sholatu wassalam..

وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ

Dan sesungguhnya ini adalah umatmu sebagai umat yang satu dan Aku adalah Rob (Tuhan Pencipta-Mu). Maka bertakwalah pada-Ku. (QS. Al-Mukminun : 52)

Lewat kehidupan di bawah naungan Al-Qur’an, akan nyata di hadapan Anda bahwa kafilah yang mulia yang membentang sejak masa yang amat jauh sebelumnya menghadapi kondisi-kondisi yang mirip. Sebagaimana yang dijelaskan Al-Qqur’an, ada pengalaman-pengalaman yang mirip sepanjang masa kendati berbeda waktu, tempat dan kaum.

Kafilah mulia itu selalu menghadapi kesesatan, kebutaan, hawa nafsu, penindasan, kezaliman, intimidasi dan pengusiran. Namun demikian, kafilah mulia tetap berjalan di atas jalan yang permanen (tsabit), dengan hati yang tenang seraya tsiqah (yakin) meraih pertolaongan Allah, terikat setiap saat pada rojak (sangat berharap) akan terjadinya janji Allah yang Maha Benar.

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِنْ أَرْضِنَا أَوْ لَتَعُودُنَّ فِي مِلَّتِنَا فَأَوْحَى إِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظَّالِمِينَ (13) وَلَنُسْكِنَنَّكُمُ الْأَرْضَ مِنْ بَعْدِهِمْ ذَلِكَ لِمَنْ خَافَ مَقَامِي وَخَافَ وَعِيدِ (14)


Dan orang-orang kafir itu berkata kepada para Rasul mereka : Kami pasti mengusir kalian dari bumi (negeri) kami, atau kalian kembali ke dalam agama kami. Maka Rab (Tuhan Pencipta) mereka memberikan wahyu kepada mereka : Kami pasti membinasakan orang-orang zalim itu () dan Kami menempatkan kamu di negeri itu setelah (kehancuran) mereka. Yang demikian itu (balasan) bagi orang yang takut (akan menghadap) ke hadirat-Ku dan yang takut kepada ancaman-Ku. (QS Ibrahim : 13 – 14)

Demikianlah Al-Qur’an menyebutkan satu sikap, satu pengalaman, satu ancaman dan satu keyakinan. Janji Allah hanya satu bagi kafilah yang mulia ini. Akhir (ending)-nya juga satu yang ditunggu-tunggu kaum Mukminin pada akhir perjalanan saat mereka menghadapi tekanan, intimidasi dan ancaman…

Jika Anda benar-benar hidup di bawah naungan Kitabullahh; Al-Qur’an, Anda akan belajar darinya bahwa di alam semesta ini tidak ada yang bernama “kebetulan” dan tidak juga yang bernama “terjadi begitu saja’.

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ

Sesungguhnya Kami ciptakan bagi setiap sesuatu itu dengan kadar (batas).

QS Al-Qomar : 49.

وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا …..

dan Dia menetapkan ukuran-ukuran segala sesuatu (nya) dengan serapi-rapinya.QS. Al-Furqan : 2)

Setiap perkara ada hikmahnya. Akan tetapi hikmah yang ghaib (tersembunyi) yang amat dalam yang bisa saja tidak terbuka untuk pandangan manusia yang amat pendek.

فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا ….

Maka boleh saja kamu membenci sesuatu dan Allah jadikan di dalamnya kebaikan yang banyak (QS Al-Maidah : 19)

وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Dan boleh saja kamu membenci sesuatu sedangkan dia lebih baik bagimu dan boleh saja kamu mencintai sesuatu sedangkan dia lebih buruk bagimu. Dan Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui (apa-apa). (QS. Al-Baqarah : 216)

Sesungguhnya faktor-faktor penyebab yang dikenal manusia bisa saja menimbulkan efek/pengaruh dan bisa juga tidak berpengaruh. Permulaan/indikator yang biasa dilihat manusia sebagai sebbuah kepastian bisa saja melahirkan hasilnya yang pasti dan bisa juga tidak. Yang demikian itu disebabkan karena faktor-faktor penyebab dan indokator-indikator tersebut bukanlah sebagai pencipta pengaruh dan hasil. Akan tetapi merupakan sebauh Kehendak yang mutlak (pasti dari Allah) yang melahirkan pengaruh dan hasil sebagaimana Kehendak tersebut juga yang melahirkan faktor-faktor penyebab dan indikator-indikator itu.

لا تَدْرِي لَعَلَّ اللَّهَ يُحْدِثُ بَعْدَ ذَلِكَ أَمْرًا

Anda tidak mengetahui bisa saja Allah ciptakan setelah itu suatu perkara (QS. At-Thalaq : 1)

وَمَا تَشَاءُونَ إِلّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

Dan kamu tidak bisa berkehendak kecuali jika Allah Tuhan Pencipta alam semesta menghendaki (nya) (QS At-Takwir : 29)

Orang Mukmin melaksanakan faktor-faktor penyebab karena diperintahkan melakukannya (sebagai ekspresi ibadah kepada-Nya). Dan Allah jualah yang mengaitkan pengaruh dan hasilnya dari apa yang dilakukannya. Ketenagan meraih rahmat Allah, keadila-Nya, hikmah-Nya dan ilmu-Nya sajalah tempat berlindung yang terpercaya serta cara terlepas dari kebimbangan dan keragu-raguan.

الشَّيْطَانُ يَعِدُكُمُ الْفَقْرَ وَيَأْمُرُكُمْ بِالْفَحْشَاءِ وَاللَّهُ يَعِدُكُمْ مَغْفِرَةً مِنْهُ وَفَضْلًا وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Setan itu menjanjikan kefakiran kepada kami dan menyuruhmu melakukan perbuatan yang keji. Dan Allah menjanjikan bagimu ampunan dan karunia dari-Nya. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) serta Maha Mengetahui (QS Al-Baqarah : 268)

Read More...

Mukaddimah Fi Zhilal Quran (1)

Jika Anda diberi Allah nikmat hidup di bawah naungan Al-Qur’an dalam suatu masa, Anda pasti merasakan nikmat yang luar biasa yang belum pernah Anda rasakan sebelumnya dalam hidup ini. Rasakanlah nikmat yang mengangkat derajat hidup Anda, memberkahi dan mensucikannya.

Hidup di bawah naungan Al-Qur’an adalah sebuah nikmat. Nikmat yang tidak diketahui indahnya kecuali bagi orang yang merasakannya. Nikmat yang mengangkat derajat hidup, memberkahi dan mensucikannya. Jika Anda diberi Allah nikmat hidup di bawah naungan Al-Qur’an dalam suatu masa, Anda pasti merasakan nikmat yang luar biasa yang belum pernah Anda rasakan sebelumnya dalam hidup ini. Rasakanlah nikmat yang mengangkat derajat hidup Anda, memberkahi dan mensucikannya.

Sesunggunya jika Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an, sesungguhnya Anda hidup sambil mendengar Rabb-mu (Tuhan Penciptamu) sedang berbicara denganmu melalui Al-Qur’an ini. Anda adalah hamba yang kerdil dan kecil. Kemuliaan apakah gerangan yang diberikan kepada manusia ini? Kemulian yang amat tinggi dan mulia. Kemuliaan apakah gerangan yang diangkat oleh Tanzil (Al-Qur’an) bagi hidup ini? Kedudukan apapakah gerangan yang akan dianugrahkan oleh Maha Pencipta nan Mulia kepada manusia ini?

Sesungguhnya jika hidup ini dijalankan di bawah naungan Al-Qur’an, Anda dari ketinggian akan melihat Jahiliyah yang sedang melanda muka bumi ini, konsentrasi pemeluknya yang kecil dan kerdil. Anda juga akan heran melihat pengetahuan, konsep hidup dan focus (hidup) para penganut Jahiliyah itu, seperti halnya orang dewasa melihat anak-anak kecil sedang bermain-main. Dan Anda akan lebih heran lagi sambil berkata: Apa gerangan yang sedang menimpa manusia-manusia itu? Mengapa mereka terpuruk ke jurang yang amat kotor dan tidak dapat mengengar seruan yang Maha Tinggi dan Mulia?

Ketika Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an, sesungguhnya Anda hidup dengan konsep yang syamil (comprehensive), berkualitas tinggi dan bersih bagi keberadaan alam semesta dan tujuannya serta tujuan keberadaan manusia. Coba anda bandingkan konsep yang syamil untuk kehidupan, alam semesta dan manusia itu dengan berbagai konsep Jahiliyah yang menjadi sistem hidup manusia di Timur dan Barat, di Utara dan Selatan. Kemudian coba Anda bertanya: Mengapa mereka bisa hidup di lembah kepedihan, di dasar yang paling rendah, dalam kegelapan yang gelap gulita itu? Padahal di samping Jahiliyah itu terdapat tempat hidup yang tinggi (mulia) dan cahaya yang terang benerang.

Jika Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an Anda akan merasakan singkronisai (harmonisasi) yang sangat indah antara gerakan manusia seperti yang dikehendaki Allah dan gerakan alam semesta ini yang diciptakan Allah dengan sangat indahnya. Kemudian Anda akan menyaksikan keterpurukan yang sedang diderita manusia akibat penyimpangannya dari sisitem alam (yang Allah ciptakan). Demikian juga paradoks yang terjadi antara pendidikan yang rusak dan jahat yang dipaksakan dan fitrah manusia yang diciptakan Allah pada mereka. Anda akan melihat sendiri. Setan terkutuk manakah gerangan yang menggiring langkah manusia menuju neraka Jahim? Dan Anda pasti berkata dengan yakin : Alangkah besarnya penyesalan hamba-hamba itu?

Sesungguhnya jika Anda hidup di bawah naungan Al-Qur’an maka Anda akan melihat semseta ini jauh lebih besar dari fenomena yang disaksikan. Lebih besar dari dari hakikatnya, lebih besar dari sisi-sisinya. Kemunculan manusia terbentang pada jalan-jalan yang amat panjang. Kematian bukanlah akhir perjalanan ini. Namun satu fase dari perjalanan itu. Apa yang diperoleh manusia ketika berada di dunia ini bukanlah merupakan semua jatahnya. Namun sebagian saja dari jatah keseluruhannya. Balasan yang lolos sehingga tidak menimpanya di dunia ini, bukan berarti dia lolos pula di sana (akhirat), di mana di sana tidak ada lagi kezaliman, kekurangan dan ditelantarkan.

Sesungguhnya periode yang Anda habiskan di atas bumi ini sesungguhnya merupakan perjalanan alam semesta yang bersahabat, alam berteman dan menhasihi. Alam yang memiliki ruh (nyawa) yang bisa menerima dan menjawab dan sedang mengarah kepada sang Pencipta yang Esa di mana ruh orang Mukmin juga mengarah dengan khusyuk. “Dan kepada Allah sujud siapa saja yang ada di langit dan di bumi, baik dalam keadaan patuh maupun terpaksa, dan demikian pul abayang-bayang mereka di waktu pagi dan sore." (QS. Arro’d : 15) “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isro’ : 44)

Ketenangan, keluasan, kedekatan dan kepercayaan apa gerangan yang yang dilahirkan konsepsi yang syamil, yang luas dan yang benar ini ke dalam lubuk hatimu saat melihat ketundukan jagat raya ini kepada Allah, Tuhan Pencipta alam semesta?

Read More...

Tafsir Fi Zhilalil Qur'an

Oleh : Asy-syahid Sayyid Qutb
Penerejemah & Komentar : Fathuddin Ja’far

Prolog
Mungkin ada yang bertanya : Kenapa Era Muslim.com yang tampil dengan wajah barunya lebih menawan ini memilih Fi Zhlalil Qur’an dalam rubrik Tafsir? Apa tidak ada karya ulama besar Islam lain sejak Ibnu Abbas (Tafsir Ibnu Abbas) sampai Maududi (The Understanding of Qur’an). Atau karya ulama tetrkemuka Indonesia; buya Hamka yang bernama Tafsir Al-Azhar?

Saudaraku yang tercinta. Pada dasarnya, semua karya ulama Islam yang mu’tamad (memenuhi persyaratan sehingga bisa dijadikan pegangan) sama hebatnya. Karya-karya mereka, khususnya dalam tafsir Al-Qur’an merupakan hasil interaksi mereka dengan Al-Qur’an secara intensif selama mereka hidup. Bahakan tidak jarang, pemahaman mereka terhadap Al-Qur’an yang mendalam dan pengamalan isinya serta penyebaran nilai-nilai yang terkandung di dalamnya secara konsisten menyebabakan mereka menghadapi berbagai ujian, khususnya dari penguasa atau pihak-pihak yang menginginkan Al-Qur’an jauh dari kepala, hati, perasaan dan prilaku umat ini. Itulah yang dihadapi Sayyid Qutb, penulis tafsir Fi Zhilalil Qur’an yang merelakan hidupnya diakhiri di tiang gantung rezim Jamal Abdul Naser demi mempertahankan isi dan kemuliaan Al-Qur’an.

Sebab itu, semua tafsir karya ulama-ualama besara sepanjang sejarah memiliki kelebihan dan keistimewaan. Keistimewaan tersebut terletak pada konsentrasi dan permasalahan yang mereka tekankan sesuai dengan permasalahan yang sedang dihadapi umat di zaman mereka masing masing.

Fi Zhilalil Qur’an juga demikian. Sayyid Qutb hidup di zaman penguasa-penguasa Islam yang amat zalim. Saking zalimnya, mereke memaksa umat ini hidup dengan sisitem jahiliyah yang mereka import dari Barat kolonialis yang nota bene dibungkus ajaran Yahudi dan Nasrani yang jelas-jelas bertentangan dengan inti ajaran Al-Qur’an.

Di zaman Fi Zhilil Qur’an ditulis (sebagian besarnya ditulis Sayyid Qutb di Penjara Mesir), nyaris sulit membedakan antara al-Haq (kebenaran yang datang dari Allah) dan al-Bathil (kebatilan yang datang dari manusia dan setan). Penjajah dengan segala pemikirannya menjadi tuan dan bahkan tuhan yang harus ditaati. Sednagkan penduduk negeri asli yang Muslim menjadi asing dan tamu di negeri sendiri. Antara Tauhid dan Syirik sudah nyaris tanpa beda. Antara iman dan kufur sudah tidak banyak lagi dibicarakan. Antara hati nurani, pikiran sehat dan hawa nafsu sudah samar. Antara carahaya dan kegelapan sudah tidak lagi menjadi perhatian. Bahkan antara Tuhan Pencipta (Allah) dengan berhala-berhala yang disembah, baik dalam bentuk manusia, sistem hgidup, tradisi nenek moyang, akal, ilmu pengetahuan, teknologi, patung, uang, jabatan dan sebagainya sudah tidak dihiraukan.

Bahkan, penguasa-penguasa dunia Islam saat itu dengan mudahnya memaksakan kepada umat ini untuk menerima dan mengakui yang hak menjadi batil, yang batil menjadi hak, yang halal menjadi haram dan yang haram menjadi halal. Lebih dari itu, ulama dan para aktivis dakwah yang menyuarakan al-Haq itu adalah Al-Haq dan al-Bathil itu adalah al-Bathil dimushi, dituduh dengan berbagai tuduhan yang mengerikan, lalu ditangkap, dipenjara dan bahkan Sayyid Qutb sendiri dibunuh di tiang gantung rezim Jamal Abdul Naser.

Dalam salah satu untaian syair, Sayyid Qutb bersenandung:

Saudaraku….. engkau bebas merdeka di balik jeruji besi…
Saudaraku….. engkau bebas merdeka dengan belenggu ini…
Jika engkau benar-benar berlindung pada Allah….maka tipu daya budak-budah itu tidak akan mencelakakanmu..
Saudarakau…. Jika kita mati, bebarati kita akan bertemu dengan para kekasih kita (Rasul, Sahabat dan orang-orang saleh)
Taman syurgawi Tuhanku sudah disiapkan untuk kita…..

Dalam situasi dan kondisi seperti itulah Fi Zhilalil Qiur’an ditulis dan disebarkan. Berkat taufiq dari Allah, sejak Fi Zhilal diterbitkan sampai hari ini, ia tetap menjadi rujukan berjuta-juta umat Islam dan bahkan oleh para ulama sendiri di seluruh penjuru dunia. Atau dengan kata lain, Fi Zhilal tetap menjadi best seller sejak diluncurkan sampai hari ini. Syekh Abdullah Azzam pada pertengahan 80an pernah bercerita: Di Libanon, jika ada percetakan mulai bangkrut, para pemiliknya mencetak Fi Zhilalill Qur’an dan juga buku-buku Sayyid yang lain, maka percetakan tersebut terhindar dari kebangkrutan. Allahu Akbar….

Kenapa Fi Zhila menjadi rujukan uatama saat ini? Jawabannya ialah bahwa situasi dan kondisi kita sekarang tidak jauh berbeda dengan situasi dan kondisi saat Fi Zhilal ditulis sekitar 45 tahun lalu. Bahakn jahiliyahnyapun masih itu-itu juga. Ingkar pada Allah dan Rasul-Nya. Tidak mau menjadikan Al-Qur’an senbagai the way of life. Mempertuhankan akal, ilmu pengetahuan, teknologi, harta dan kedudukan. Berbagai kejahatan dan kezaliman yang timbul akibat jauh dari manhaj Al-Qur’anpun juga masih sangat terasa seperti saat Fi Zhilal diluncurkan. Alangkah miripnya zaman kini dengan masa itu.

Secara umu dapat kita simpulkan bahwa Fi Zhilalil Qur’an memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Di antaranya :

  1. Kekuatan membawa kita tenggelam sambil menyelami ilmu dan hikmah yang ada di dalam Al-Qur’an dengan penuh kenikmatan yang tidak mungkin digambarkan dengan kata-kata.
  2. Kekuatan megikat dan merajut ayat-ayat Al-Qur’an dengan Hadits Rasul Saw. serta Sirah Nabawiyah dan para Sahabatnya, kemudian dikaitkan dengan sitausi dan kondisi kekinian (waqi’).
  3. Kekuatan membangkitkan keyakinan (keimanan), optimisme pada rahmat dan pertolongan Allah dan rasa percaya diri sebagai umat terbaik yang Allah hadirkan ke atas bumi ini.
  4. Kekuatan menggugah pikiran dan perasaan kita sehingga muncul berbagai inspirasi, ide, gagasan dan berbagai pertanyaan yang paralel dengan situasi dan kondisi yang kita lewati sekarang, sehingga kita memahami dengan tepat situasi dan kondisi tersebut dengan ide solusi yang jelas pula.
  5. Kekuatan pencerahan yang luar biasa terkait hakikat Tuhan, manusia, kehidupan dunia, alam semesta, kehidupan akhirat, jahiliyah dan Islam.
  6. Kekuatan penelaahan yang sangat luar biasa dalam hal hakikat Islam dan Jahiliyah, iman dan kufur, serta keunggulan manhaj (konsep) Islam dibandingkan dengan konsep jahiliyah, baik dulu maupun yang ada sekarang yang datang dari Barat maupun Timur.
  7. Kekuatan bahasa yang digunakan karena Sayyid Qutb memang terkenal sebagai seorang penyair kawakan di zamannya dan bahkan beberapa syairnya sampai hari ini belum terkalahkan.

Sungguh Fi Zhuilalil Qur’an adalah kekuatan yang lahir dari keyakinan yang kuat, pamahaman yang mendalam, penerapan dalam kehidupan nyata dan diperjuangakan oleh penulisnya sampai detak jantungnya yang terakhir. Sebenarnya, ada tawaran dari Jamal Abdul Naser bahwa Sayid Qutb dapat selamat dari tiang gantung (hukuman mati) asal mau menandatangani surat minta maaf yang telah disiapkan penguasa. Sambil menuju ke tiang gantung Sayid Qutb berkata :

Sesungguhnya telunjuk saya yang bersaksi dengan mengucap dua kalimat syahadat (Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul-nya) minimal lima kali dalam sehari (waktu shalat fardhu) tidak mungkin dia menandatangani atau menulis satu katapun yang menyebabkan saya beredekat-dekat dengan penguasa thaghut (zalim). Jika saya dihukum disebabkan karena al-Haq, maka saya ridha berhukum dengan al-Haq. Namun jika saya dihukum dengan al-Bathil (kebatilan) maka saya lebih besar dari meminta kasih sayang kepada kebatilan itu.

Agar dapat menikmati hidangan Fi Zihalil Qur’an dengan indah dan nikmat, maka pertama kali kami menyajikannya kepada para pembaca/pengunjung ringkasan mukaddimahnya. Ringkasan mukaddimah tersebut kami bagi menjadi empat (4) tulisan. Setelah itu, kami akan menurunkan Fi Zhilalil Qur’an secara tematik, yakni sesuia situasi dan kondisi yang kita hadapi. Hal tersebut kami lakukan agar terasa bahwa Al-Qur’an itu adalah petunjuk hidup (hudan), jalan keselamatan, peringatan, syifa (obat) dan rahmat saat kita berada di dunia ini. Al-Qur’an adalah jalan peningkatan kualitas hidup kita yang sejati saat menjalani kehidupan dunia sementara ini sambil menuju kampung akhirat yang kekal abadi. Itulah jalan al-Haq (jalan kebenaran). Selain Al-Qur’an adalah fatamorgana dan kesesatan.

فَذَلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمُ الْحَقُّ فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ إِلا الضَّلالُ فَأَنَّى تُصْرَفُونَ

Maka yang demikian itu adalah Allah, Tuhan Penciptamu yang Haq. Maka tidak ada selain Al-Haq itu kecuali kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)? (QS. Yunus : 32)

Selamat menikmati….

Read More...

Label

e-book (4) e-book Islam (7) khilafah (5) Motivasi (1) perang salib (16) politik (6) serial cinta (2) tafsir Al-Qur'an (5) umum (4)